Minggu, 26 April 2009

"Door Duistermis Tot Licht "

Bulan April semua wanita indonesia tahu bahwa ini adalah bulannya Wanita, tanggal 21 April yang lalu wanita indonesia memperingati hari Kartini " A woman leader " untuk perubahan perempuan Indonesia melalui bukunya yang berjudul " Habis Gelap Terbitlah Terang " atau " Door Duistermis Tot Licht" . Buku ini adalah kumpulan surat-surat yang ditulis RA.Kartini pada sahabatnya JH.Abendanon, surat-surat kartini yang berisi curahan hati seorang perempuan jawa ningrat yang masih terkungkung oleh aturan- aturan yang membelenggu. Kenapa perempuan hanya boleh dirumah, menjadi istri yang "mengabdi" serta kenapa perempuan diberi batasan dalam pengetahuan. Padahal menurut Kartini ditangan seorang perempuanlah kemajuan dan kehancuran suatu bangsa tercipta. Dalam suratnya yang lain Kartini juga menulis komentar kritisnya tentang agama. Bahwa kenapa kitab suci hanya dilafalkan dan dihafalkan tampa harus dipahami, bahwa kenapa agama dijadikan alasan seseorang untuk berselisih dengan orang lain padahal" agama harus menjaga kita dari berbuat dosa...tapi berapa banyak dosa dibuat orang atas nama agama". Serta alasan kenapa laki-laki mencari pembenaran lewat agama dalam hal poligami. Dari seorang Kartini sungguh kita bisa belajar akan "kemandirian sederhana " seorang perempuan.

Nah....lihatlah perempuan indonesia sekarang. seandainya Kartini masih hidup entah beliau akan tersenyum ataukah menangis sedih. Kalau kita melihat perempuan Indonesia saat ini wow.....!!. Hampir segala aspek kehidupan perempuan mampu nenunjukan eksistensinya, bahkan di dunia yang nyaris hanya "milik" kaum pria sekalipun. Perempuan yang cerdas dan mandiri. Hanya sayang menurut saya, sepertinya sekarang arah kemandirian perempuan mulai bergeser kepada keegoisan perempuan, hingga ada ( saya tidak menyebut banyak ) yang pada akhirnya melenceng jauh dari impian seorang kartini. contoh kecilnya , banyak anak-anak muda kita yang menjadi korban narkoba yang mungkin salah satu pemicunya adalah ketidak harmonisan kedua orang tuanya, dimana sang ibu tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai "ibu" bagi anak-anaknya karena sibuk bekerja. Ada perempuan mandiri yang memutuskan untuk tidak menikah karena merasa mampu menghidupi diri sendiri ( sayangnya mereka memilih untuk hidup tampa ikatan pernikahan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya ). Tapi diatas semua itu sejujurnya saya bangga sebagai perempuan indonesia melihat kemajuan yang dicapai mereka saat ini.

Bagi saya pribadi, kemandirian itu amat sangat penting untuk perempuan saat ini, dalam artian bahwa benar kita harus mampu menjalani dan mengatasi hidup kita sendiri sebaik mungkin, dan untuk itu seorang perempuan haruslah cerdas, dengan kecerdasan diharapkan akan muncul kearifan hidup. kemandirian bukan berati kesombongan, karena Perempuan juga adalah makhluk "homo sapiens"yang perlu manusia lain di sekelilingnya. dan satu lagi...menurut saya perempuan harus mampu menentukan sikap dan bertanggung jawab atasnya.sebagai contoh saya akan menceritakan diri saya sendiri. Saya perempuan 31 tahun, bekerja dan lajang, dan anda tahu bagaimana pandangan masyarakat tentang usia saya dan status kelajangan saya ( saya tinggal di daerah ), tapi saya tidak peduli , saya memiliki sikap yang jelas dalam hal ini, bahwa kelak saya akan menikah dengan pria yang mau menjadi partner hidup yang baik satu sama lain.saya tidak mau menikah karena orang lain saya mau menikah karena keinginan saya sendiri.akan sangat baik menurut saya ketika seorang perempuan tersebut berprestasi dalam karirnya tapi juga berprestasi dalam "kehidupan".

Selamat hari Kartini untuk seluruh perempuan indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar