Hidup itu adalah pilihan, kalimat itu memang nyata benar nyata benar adanya, kerap kali kita dihadapkan pada pilihan hidup yang sulit ( kalau bisa ingin kita pilih dua-duanya atau tidak kita pilih sama sekali ). Dan seringkali mungkin pilihan yang kita ambil adalah ilihan yang salah ( mungkin saat itu pilihan yang kita ambil adalah pilihan nekat ...). Saya contohnya, sedari kecil mungkin orang tua telah mendidik saya untuk tidak terlalu tergantung pada orang lain ( padahal saat kecil dulu saya adalah anak yang boleh dibilang bermental tempe alias penakut ), sedikit demi sedikit mereka mengajarkan saya kemandirian , bangun tidur harus bisa merapikan tempat tidur sendiri, mencuci baju sendiri sejak saya sekolah lanjutan pertama, hmm mungkin itu karena saya adalah anak sulung yang nantinya diharapkan bisa menjadi contoh untuk adik-adik saya, hingga saat saya dirasa cukup untuk boleh menentukan keputusan-keputusan penting dalam hidup saya. Sebagai anak sepertinya saya tidak pernah merasa hidup saya didikte oleh mereka.
Ketika saya lulus kuliah , saya mengambil keputusan untuk pergi merantau ke jakarta, dalam hati saya mengatakan " tiga bulan belum mendapat pekerjaan saya akan balik ke kampung halaman", kalau tidak salah saat itu saya pamit ke orang tua tidak untuk mencari kerja tapi untuk menengok nenek dan kakek saya, dan kalau tidak salah bapak hanya memberi saya uang saku Rp.100.000,-. Saya bawa salinan ijazah saya. Hari-hari saya di jakarta saya isi dengan tidak kenal lelah mengirim berpuluh-puluh surat lamaran, satu demi satu mendatangi dan memenuhi undangan interview ( kadang-kadang harus ada acara tersesat, maklum saya orang udik yang baru datang jakarta dan hanya bermodal percaya diri ) , kadang ada saudara yang berbaik hati menemani saya interview tp sesekali saya harus datang sendiri. Satu bulan berlalu, uang saku pun habis, untuk meminta uang bahkan kepada nenek/kakek sendiri saya sungkan. padahal saya tidak mau berhenti sampai disini. sampai suatu ketika saya iseng duduk-duduk di kedai depan rumah bude tempat saya menumpang, kedai itu tempat berjualan es jus dan asinan dan kebetulan setiap sabtu dan minggu libur jualan. saya pun nekat minta ijin meminjam kedai nya untuk berjualan, ketika saya mengutarakan maksud saya ke Bude , beliau mendukung bahkan memberi saya pinjaman uang Rp.50.000,- sebagai modal awal. dengan semangat 45 saya belanja segala keperluan berdagang saya. Alhamdulillah di hari pertama saya mendapat uang sekitar seratus ribu lebih, jalan keluar saya temukan. Mungkin Tuhan melihat kegigihan saya dan keyakinan saya akhirnya belum genap tiga bulan saya mendapat pekerjaan di tempat yang nantinya akan saya syukuri bahwa saya pernah bekerja di sana ( disana saya belajar banyak hal dan mendapat banyak teman - teman yang baik ). hmmm saya rasa pilihan yang saya ambil saat itu adalah benar.
Kali ini pilihan yang saya ambil salah,
Hi..hi..saya ingat sekali, di hari pertama saya kerja saya melakukan kesalahan dan bos memarahi saya habis-habisan ( untungnya ada teman yang sangat baik membela saya dan menyelamatkan saya dari murka bos ). Saking nervousnya saya saat itu, saya sampai terkencing-kencing dan ketika masuk toilet saya salah masuk toilet pria !!! ( duh malunya saya saat itu ,,,). hari demi hari , bulan demi bulan tak terasa hampir 3 tahun saya bekerja. saat itu sebenarnya saya tidak memiliki masalah apapun yang berhubungan dengan pekerjaan, kantor yang baik ( saat itu ), atasan yang cukup baik, serta teman-teman yang baik. bahkan atasan saya pernah mengatakan bahwa kelak saya bisa menggantikan posisinya saat dia berhenti atau pensiun nanti. Entahlah...mungkin saya sedang merasakan kejenuhan yang teramat sangat saat itu, saya memutuskan untuk mengambil cuti mendadak dan itu membuat bos saya tidak senang, dan saya tidak pedulikan itu. saya tidak peduli apakah nanti saya akan mendapat SP atau mungkin surat pemecatan. saya pulang ke kampung selama hampir satu minggu, bos mengirimkan SMS dan mengatakan saya harus siap dengan konsekwensi yang harus saya terima ketika saya kembali nanti, saya tetap tak peduli. Entah atas pertimbangan apa saat itu saya mengambil keputusan untuk resign !, dan sekembalinya ke jakarta saya benar-benar mengajukan surat resign. Padahal bos saya hanya menggertak saya , beliau tidak memberi saya SP apalagi surat pemecatan , beliau mengatakan " walaupun dilarang kamu pasti tetap akan cuti kan saat itu?, saya hapal dengan sifat keras kepalamu". Beliau menyayangkan keputusan saya, berharap agar saya mengurungkan niat saya. dan saya mengambil pilihan untuk resign. saya rasa itu adalah pilihan terbodoh yang pernah saya ambil, dan saya sempat menyesalinya.
Sekembalinya saya ke kampung saya memutuskan untuk mencari pekerjaan di jogja, dan sekali lagi entah beruntung atau karena usaha keras saya, tidak lama saya mendapat pekerjaan baru, sejujurnya saya tidak begitu nyaman dengan pekerjaan ini, tapi saya berusaha menikmatinya. Entahlah selama kurun waktu hampir satu tahun selalu ada saja masalah yang timbul dalam hidup saya, dan mungkin itu berawal dari pilihan yang salah ( benarkah,,,? ). satu tahun bertahan saya memutuskan untuk keluar dan berpindah-pindah pekerjaan. sampai detik ini. Untuk masalah menentukan sebuah pekerjaan saja saya seringkali dihadapkan pada dilema, ini atau itu,,,,disini atau disana. Tapi setelah saya renungkan entah benar entah salah semua pilihan yang saya ambil semua memberi saya pelajaran berharga, karena setiap akibat yang harus saya terima dari pilihan itu adalah sebuah konsekwensi. Dengan adanya pilihan hidup saya jadi penuh warna selain kedewasaan saya teruji tentunya.
Jadi jangan takut dengan pilihan dan sebenarnya tidak ada pilihan yang salah, semua tergantung bagaimana cara kita menyikapinya.