Senin, 25 Mei 2009

For One More Day

Novel kedua dari Mitch Albom yang saya baca setelah " Meet Five People in Heaven". Cerita yang sangat sederhana tapi penuh dengan makna, tentang hubungan antara anak dan ibu, tentang arti kejujuran, kebersamaan dalam sebuah keluarga. Kisah tentang mantan pemain baseball bernama Charley Benetto ketika berada dalam situasi yang paling buruk dalam hidupnya dan memutuskan untuk bunuh diri, dan ketika tuhan memutuskan menunda kematiannya dalam sebuah kecelakaan dan memberi kesempatan satu hari bertemu dengan ibunya yang telah meninggal dunia.

Dalam satu hari itu sang ibu memberi tahu Charley tentang tiga hal, tentang ketulusan seorang ibu yang apapun dilakukan hanya karena ingin melihat anaknya bahagia walaupun sang ibu harus seringkali menangis ketika sang anak tidak memperdulikannya.tentang alasan yang tak pernah bisa terungkapkan karena tak ingin menyakiti hati anak-anaknya, juga tentang arti kebersamaan dalam sebuah keluarga .Dan ketika waktu satu hari itu telah menyadarkan charley bahwa betapa selama ini dia telah menyia-nyiakan waktu hingga istri dan anaknya menyerah dan memutuskan meninggalkannya.

Saya merenung, saya pernah mengalami hal seperti Charley, ketika saya menyia-nyiakan waktu kebersamaan yang Tuhan beri untuk saya dan adik perempuan saya. Kami berdua sangat dekat satu sama lain, mungkin karena selisih umur saya yang hanya dua tahun lebih tua dari dia. Kami tidur ditempat tidur yang sama, bermain dengan temen-teman yang sama, bersekolah di tempat yang sama, masa kecil kami selalu kami habiskan berdua, rasanya kami berdua belum pernah bertengkar hebat . Dia adik yang luar biasa, periang , selalu membuat bahagia orang-orang disekelilingnya.Dan hanya Tuhan yang tahu ketika saya mulai mengabaikannya. Ketika saya mulai melanjutkan pendidikan di luar kota, kami berpisah. Ketika saya mulai menemukan dunia baru dengan teman-teman yang baru, ketika saya jarang pulang menjenguk keluarga saya.

Saya bahkan terlambat menyadari ketika Tuhan seakan mengatakan " sudah cukup waktu yang Aku beri untukmu hesti ". Hesti adiku yang sangat kuat, tidak pernah mengeluh sedikitpun ketika ternyata dia menderita suatu penyakit yang kata dokter belum ada obatnya ( pada saat itu ). Saat itu seharusnya saya menunggunya setiap hari, mengajaknya bercerita, membuat hari-hari terakhirnya bahagia. Tapi sayangnya aku tidak pernah melakukannya, saya hanya menemani setiap hari minggu, saya tidak mengajaknya bercerita, saya tidak melakukan hal-hal yang membuat hatinya bahagia, tapi hanya Tuhan saja yang tahu saat itu hatiku selalu mengatakan " Dia tidak akan mati ". Dan ketika saat itu tiba, saya hancur, sedih, marah, dan setelahnya adalah penyesalan. Seharusnya diwaktu-waktu terbatasnya aku selalu berada disampingnya, mendukungnya, membuatnya selalu gembira, ketika saya menyadari betapa saya sangat menyayanginya. Adiku membuka mataku bahwa waktu tidak akan pernah terulang kembali, dan aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu itu. Betapa kebersamaan itu sangat berarti dan akan selalu dikenang….( untuk kedua orang tuaku dan kedua adik tercintaku ). Saat ini kami terpisahkan oleh jarak tapi saya selalu ingin menyempatkan waktu menelpon dan mendengar suara-suara orang yang saya kasihi dan mengetahui mereka baik-baik saja.

" Pernahkah kau kehilangan seseorang yang sangat engkau sayangi dan kau ingin bisa bercakap-cakap dengannya sekali lagi, mendapatkan satu lagi kesempatan untuk menggantikan waktu-waktu ketika kau menganggap mereka akan selalu ada selamanya ?, jika pernah , maka kau pasti tahu bahwa seberapa banyakpun kau mengumpulkan hari-harimu sepanjang hidupmu, semua tak akan cukup untuk menggantikan satu hari itu" satu hari yang ingin selalu bisa kau miliki lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar