Minggu, 10 Mei 2009

7 Hari di Jakarta

Minggu lalu saya melakukan perjalanan ke Jakarta, ibu kota Indonesia tercinta. Perjalanan saya tempuh dengan menggunakan sarana transportasi kereta api, sengaja saya pilih kelas bisnis dengan alasan efisiensi biaya dan ingin tahu seperti apa fasilitas yang diberikan PJKA dengan tarif bisnis yang 100 ribu rupiah. Saat saya naik kereta cukup bersih dan cukup layak untuk kelas bisnis, mungkin karena baru dilakukan perbaikan sana sini ( tampak masih bau cat ). Pedagang asongan juga tidak lagi berkeliaran di dalam kereta, dalam hati saya berkata sampai kapan akan berjalan tertib seperti ini ( maklum di negara kita peraturan hanya kadang berlaku dan diterapkan tak lebih hanya dihitung dengan minggu atau bulan ). Aparat keamanan juga saya liat sesekali keliling loko untuk mengontrol kondisi kereta. hanya satu yang tidak pernah berubah dari kereta api kita, tidak tersedianya kantung sampah dan air bersih ( Indonesia banget yah...).

Menjelang subuh saya tiba di stasiun Jatinegara. Jakarta kota yang menurut saya baca adalah impian hampir setengah penduduk Indonesia. semua yang kita mau tersedia di sini, sumber rejeki dan kesenangan ( kata mereka ). Tapi yang saya lihat pertama kali ketika kereta mulai memasuki kota Bekasi adalah gubuk-gubuk kumuh dan kesemrawutan. Jauh-jauh mereka datang dari kampung yang katanya untuk memperbaiki nasib ternyata yang mereka dapatkan tetap kemelaratan. Banyak dari mereka yang datang hanya bermodalkan tekad tampa ditunjang oleh pendidikan yang cukup, akhirnya pekerjaan yang didapatkan hanya pemulung,pengemis bahkan mungkin bayak yang terjerumus ke dalam dunia kejahatan dan prostitusi.

Esok hari setelah cukup berisitrahat saya janji bertemu dengan salah seorang teman lama, saya menginap di rumah soudara di daerah tebet dan kami janji bertemu di Blok M. MACET !...hampir disemua ruas jalan. sengaja saya memilih untuk sedikit berputar-putar kota dulu sebelum menuju Blok M, seperti apa jakarta sekarang. Problem kemacetan ternyata masih menjadi masalah utama di kota jakarta, padahal pemerintah telah menambah ruas jalan layang dan bus way dengan harapan para pengendara kendaraan pribadi mau beralih menggunakan busway. Tapi kenyataannya ?.... , belum lagi saya dengar sekarang pemda jakarta menerapkan peraturan jam sekolah jam 1/2 tujuh pagi, lagi-lagi dengan alasan untuk menghindari kemacetan,dan lagi-lagi langkah itu ternyata tidak efektif.Jumlah pengguna kendaraan roda empat dan roda dua yang malah kian bertambah ( mungkin salah satunya disebabkan oleh prodeusen kendaraan yang meluncurkan produk mobil murah, yang pada akhirnya banyak keluarga kelas menengah bisa membeli walaupun dengan cara mencicil ), belum lagi harga BBM yang menurut yang saya baca di indonesia harga BBM masih tergolong murah jika dibandingkan dengan negara-negara asia lainnya apalagi eropa dan amerika. Ditambah lagi dengan watak sebagian besar penduduk Indonesia yang masih feodal,yang masih saja menganggap bahwa kebendaan mencerminkan status seseorang.

Kami janjian bertemu di sebuah mall, sambil menunggu teman yang katanya terjebak macet saya memutuskan untuk keliling mall, Semua produk dari kelas menengah hingga yang lux tersedia di mall ini. Dan konsumen juga bayak, hmm....betapa konsumtifnya warga jakarta. seringkali konsumen di mall itu membeli barang-barang tersier yang sesungguhnya tidak penting atau malah mereka telah memiliki barang itu di rumah. Saya tidak tahu,mungkin begitulah cara warga ibu kota membuang rasa penat dengan segala rutinitas hidup. Sepertinya sekarang ini hampir disemua sudut kota jakarta dan sekitarnya mall-mall baru bertebaran, ini membuktikan bahwa penduduk ibu kota sangatlah konsumtif ( karena tidak mungkin mall-mall itu dibangun tampa ada permintaan pasar ). Sayapun membandingkan dengan negara tetangga kita singapura, menurut yang saya baca penduduk singapure memilih untuk saving sebagian penghasilan mereka daripada untuk konsumsi barang-barang tersier, mall-mall di sana lebih banyak dikunjungi oleh para wisatawan asing.kalaupun warga singapure pergi ke mall, mereka lebih banyak duduk-duduk di cafe hanya untuk minum segelas kopi, atau duduk-duduk di taman kota sambil membaca koran sekedar menghirup udara segar. O ya Taman kota, rasanya jakarta sangat miskin dengan taman kota,ruang terbuka hijau yang selain untuk keseimbangan alam juga sebagai tempat warga kota untuk beristirahat sejenak dari rutinitas.

Belum lagi ketika saya mendapati betapa tidak pedulinya penduduk jakarta pada sesama dan lingkungannya. sampah-sampah yang betebaran di pinggir-pinggir jalan dan pinggir kali ( hanya di jalan-jalan protokol , daerah perkantoran dan kompleks perumahan menengah keatas saja yang terlihat bersih ). Tak heran kalau kita kebetulan lewat di jalan kerap kali tercium bau tak sedap akibat sampah-sampah yang membusuk penuh lalat. Saya berpikir bagaimana jakarta setiap tahunnya menjadi langganan banjir. kalau saja kesadaran akan kebersihan dimiliki oleh setengah saja dari penduduk jakarta mungkin banjir tidak akan bertambah parah dari tahun ke tahun, ditambah lagi dengan bertambahnya bangunan gedung-gedung dan perumahan elit yang mungkin kurang mengindahkan amdal.o iya hampir saya lupa, ketika saya pulang saya nyaris tersesat karena salah turun dari bus yang saya tumpangi, saat itu hari hampir gelap, saya putuskan untuk bertanya kepada salah seorang yang kebetulan lewat. ternyata saya salah orang untuk bertanya, ketika dengan baik-baik saya bertanya arah tujuan saya, jawaban yang saya terima hanya "tanya aja ke tukang ojek!" tampa senyum sedikitpun. saya berpikir mungkin dia terburu-buru pulang karena saat itu kebetulan adalah jam pulang kantor, lalu bagaimana kalau saya bodoh dan tidak punya inisiatif atau tidak cukup uang untuk pulang ?.....entahlah.

Masih adakah yang berminat menjadi warga Jakarta ???....ohhh jakarta malangnya nasibmu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar