Rabu, 27 Mei 2009

Tentang Pilihan : part I

Hidup itu adalah pilihan, kalimat itu memang nyata benar nyata benar adanya, kerap kali kita dihadapkan pada pilihan hidup yang sulit ( kalau bisa ingin kita pilih dua-duanya atau tidak kita pilih sama sekali ). Dan seringkali mungkin pilihan yang kita ambil adalah ilihan yang salah ( mungkin saat itu pilihan yang kita ambil adalah pilihan nekat ...). Saya contohnya, sedari kecil mungkin orang tua telah mendidik saya untuk tidak terlalu tergantung pada orang lain ( padahal saat kecil dulu saya adalah anak yang boleh dibilang bermental tempe alias penakut ), sedikit demi sedikit mereka mengajarkan saya kemandirian , bangun tidur harus bisa merapikan tempat tidur sendiri, mencuci baju sendiri sejak saya sekolah lanjutan pertama, hmm mungkin itu karena saya adalah anak sulung yang nantinya diharapkan bisa menjadi contoh untuk adik-adik saya, hingga saat saya dirasa cukup untuk boleh menentukan keputusan-keputusan penting dalam hidup saya. Sebagai anak sepertinya saya tidak pernah merasa hidup saya didikte oleh mereka.

Ketika saya lulus kuliah , saya mengambil keputusan untuk pergi merantau ke jakarta, dalam hati saya mengatakan " tiga bulan belum mendapat pekerjaan saya akan balik ke kampung halaman", kalau tidak salah saat itu saya pamit ke orang tua tidak untuk mencari kerja tapi untuk menengok nenek dan kakek saya, dan kalau tidak salah bapak hanya memberi saya uang saku Rp.100.000,-. Saya bawa salinan ijazah saya. Hari-hari saya di jakarta saya isi dengan tidak kenal lelah mengirim berpuluh-puluh surat lamaran, satu demi satu mendatangi dan memenuhi undangan interview ( kadang-kadang harus ada acara tersesat, maklum saya orang udik yang baru datang jakarta dan hanya bermodal percaya diri ) , kadang ada saudara yang berbaik hati menemani saya interview tp sesekali saya harus datang sendiri. Satu bulan berlalu, uang saku pun habis, untuk meminta uang bahkan kepada nenek/kakek sendiri saya sungkan. padahal saya tidak mau berhenti sampai disini. sampai suatu ketika saya iseng duduk-duduk di kedai depan rumah bude tempat saya menumpang, kedai itu tempat berjualan es jus dan asinan dan kebetulan setiap sabtu dan minggu libur jualan. saya pun nekat minta ijin meminjam kedai nya untuk berjualan, ketika saya mengutarakan maksud saya ke Bude , beliau mendukung bahkan memberi saya pinjaman uang Rp.50.000,- sebagai modal awal. dengan semangat 45 saya belanja segala keperluan berdagang saya. Alhamdulillah di hari pertama saya mendapat uang sekitar seratus ribu lebih, jalan keluar saya temukan. Mungkin Tuhan melihat kegigihan saya dan keyakinan saya akhirnya belum genap tiga bulan saya mendapat pekerjaan di tempat yang nantinya akan saya syukuri bahwa saya pernah bekerja di sana ( disana saya belajar banyak hal dan mendapat banyak teman - teman yang baik ). hmmm saya rasa pilihan yang saya ambil saat itu adalah benar.

Kali ini pilihan yang saya ambil salah,

Hi..hi..saya ingat sekali, di hari pertama saya kerja saya melakukan kesalahan dan bos memarahi saya habis-habisan ( untungnya ada teman yang sangat baik membela saya dan menyelamatkan saya dari murka bos ). Saking nervousnya saya saat itu, saya sampai terkencing-kencing dan ketika masuk toilet saya salah masuk toilet pria !!! ( duh malunya saya saat itu ,,,). hari demi hari , bulan demi bulan tak terasa hampir 3 tahun saya bekerja. saat itu sebenarnya saya tidak memiliki masalah apapun yang berhubungan dengan pekerjaan, kantor yang baik ( saat itu ), atasan yang cukup baik, serta teman-teman yang baik. bahkan atasan saya pernah mengatakan bahwa kelak saya bisa menggantikan posisinya saat dia berhenti atau pensiun nanti. Entahlah...mungkin saya sedang merasakan kejenuhan yang teramat sangat saat itu, saya memutuskan untuk mengambil cuti mendadak dan itu membuat bos saya tidak senang, dan saya tidak pedulikan itu. saya tidak peduli apakah nanti saya akan mendapat SP atau mungkin surat pemecatan. saya pulang ke kampung selama hampir satu minggu, bos mengirimkan SMS dan mengatakan saya harus siap dengan konsekwensi yang harus saya terima ketika saya kembali nanti, saya tetap tak peduli. Entah atas pertimbangan apa saat itu saya mengambil keputusan untuk resign !, dan sekembalinya ke jakarta saya benar-benar mengajukan surat resign. Padahal bos saya hanya menggertak saya , beliau tidak memberi saya SP apalagi surat pemecatan , beliau mengatakan " walaupun dilarang kamu pasti tetap akan cuti kan saat itu?, saya hapal dengan sifat keras kepalamu". Beliau menyayangkan keputusan saya, berharap agar saya mengurungkan niat saya. dan saya mengambil pilihan untuk resign. saya rasa itu adalah pilihan terbodoh yang pernah saya ambil, dan saya sempat menyesalinya.

Sekembalinya saya ke kampung saya memutuskan untuk mencari pekerjaan di jogja, dan sekali lagi entah beruntung atau karena usaha keras saya, tidak lama saya mendapat pekerjaan baru, sejujurnya saya tidak begitu nyaman dengan pekerjaan ini, tapi saya berusaha menikmatinya. Entahlah selama kurun waktu hampir satu tahun selalu ada saja masalah yang timbul dalam hidup saya, dan mungkin itu berawal dari pilihan yang salah ( benarkah,,,? ). satu tahun bertahan saya memutuskan untuk keluar dan berpindah-pindah pekerjaan. sampai detik ini. Untuk masalah menentukan sebuah pekerjaan saja saya seringkali dihadapkan pada dilema, ini atau itu,,,,disini atau disana. Tapi setelah saya renungkan entah benar entah salah semua pilihan yang saya ambil semua memberi saya pelajaran berharga, karena setiap akibat yang harus saya terima dari pilihan itu adalah sebuah konsekwensi. Dengan adanya pilihan hidup saya jadi penuh warna selain kedewasaan saya teruji tentunya.

Jadi jangan takut dengan pilihan dan sebenarnya tidak ada pilihan yang salah, semua tergantung bagaimana cara kita menyikapinya.

Senin, 25 Mei 2009

For One More Day

Novel kedua dari Mitch Albom yang saya baca setelah " Meet Five People in Heaven". Cerita yang sangat sederhana tapi penuh dengan makna, tentang hubungan antara anak dan ibu, tentang arti kejujuran, kebersamaan dalam sebuah keluarga. Kisah tentang mantan pemain baseball bernama Charley Benetto ketika berada dalam situasi yang paling buruk dalam hidupnya dan memutuskan untuk bunuh diri, dan ketika tuhan memutuskan menunda kematiannya dalam sebuah kecelakaan dan memberi kesempatan satu hari bertemu dengan ibunya yang telah meninggal dunia.

Dalam satu hari itu sang ibu memberi tahu Charley tentang tiga hal, tentang ketulusan seorang ibu yang apapun dilakukan hanya karena ingin melihat anaknya bahagia walaupun sang ibu harus seringkali menangis ketika sang anak tidak memperdulikannya.tentang alasan yang tak pernah bisa terungkapkan karena tak ingin menyakiti hati anak-anaknya, juga tentang arti kebersamaan dalam sebuah keluarga .Dan ketika waktu satu hari itu telah menyadarkan charley bahwa betapa selama ini dia telah menyia-nyiakan waktu hingga istri dan anaknya menyerah dan memutuskan meninggalkannya.

Saya merenung, saya pernah mengalami hal seperti Charley, ketika saya menyia-nyiakan waktu kebersamaan yang Tuhan beri untuk saya dan adik perempuan saya. Kami berdua sangat dekat satu sama lain, mungkin karena selisih umur saya yang hanya dua tahun lebih tua dari dia. Kami tidur ditempat tidur yang sama, bermain dengan temen-teman yang sama, bersekolah di tempat yang sama, masa kecil kami selalu kami habiskan berdua, rasanya kami berdua belum pernah bertengkar hebat . Dia adik yang luar biasa, periang , selalu membuat bahagia orang-orang disekelilingnya.Dan hanya Tuhan yang tahu ketika saya mulai mengabaikannya. Ketika saya mulai melanjutkan pendidikan di luar kota, kami berpisah. Ketika saya mulai menemukan dunia baru dengan teman-teman yang baru, ketika saya jarang pulang menjenguk keluarga saya.

Saya bahkan terlambat menyadari ketika Tuhan seakan mengatakan " sudah cukup waktu yang Aku beri untukmu hesti ". Hesti adiku yang sangat kuat, tidak pernah mengeluh sedikitpun ketika ternyata dia menderita suatu penyakit yang kata dokter belum ada obatnya ( pada saat itu ). Saat itu seharusnya saya menunggunya setiap hari, mengajaknya bercerita, membuat hari-hari terakhirnya bahagia. Tapi sayangnya aku tidak pernah melakukannya, saya hanya menemani setiap hari minggu, saya tidak mengajaknya bercerita, saya tidak melakukan hal-hal yang membuat hatinya bahagia, tapi hanya Tuhan saja yang tahu saat itu hatiku selalu mengatakan " Dia tidak akan mati ". Dan ketika saat itu tiba, saya hancur, sedih, marah, dan setelahnya adalah penyesalan. Seharusnya diwaktu-waktu terbatasnya aku selalu berada disampingnya, mendukungnya, membuatnya selalu gembira, ketika saya menyadari betapa saya sangat menyayanginya. Adiku membuka mataku bahwa waktu tidak akan pernah terulang kembali, dan aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu itu. Betapa kebersamaan itu sangat berarti dan akan selalu dikenang….( untuk kedua orang tuaku dan kedua adik tercintaku ). Saat ini kami terpisahkan oleh jarak tapi saya selalu ingin menyempatkan waktu menelpon dan mendengar suara-suara orang yang saya kasihi dan mengetahui mereka baik-baik saja.

" Pernahkah kau kehilangan seseorang yang sangat engkau sayangi dan kau ingin bisa bercakap-cakap dengannya sekali lagi, mendapatkan satu lagi kesempatan untuk menggantikan waktu-waktu ketika kau menganggap mereka akan selalu ada selamanya ?, jika pernah , maka kau pasti tahu bahwa seberapa banyakpun kau mengumpulkan hari-harimu sepanjang hidupmu, semua tak akan cukup untuk menggantikan satu hari itu" satu hari yang ingin selalu bisa kau miliki lagi.

Minggu, 10 Mei 2009

7 Hari di Jakarta

Minggu lalu saya melakukan perjalanan ke Jakarta, ibu kota Indonesia tercinta. Perjalanan saya tempuh dengan menggunakan sarana transportasi kereta api, sengaja saya pilih kelas bisnis dengan alasan efisiensi biaya dan ingin tahu seperti apa fasilitas yang diberikan PJKA dengan tarif bisnis yang 100 ribu rupiah. Saat saya naik kereta cukup bersih dan cukup layak untuk kelas bisnis, mungkin karena baru dilakukan perbaikan sana sini ( tampak masih bau cat ). Pedagang asongan juga tidak lagi berkeliaran di dalam kereta, dalam hati saya berkata sampai kapan akan berjalan tertib seperti ini ( maklum di negara kita peraturan hanya kadang berlaku dan diterapkan tak lebih hanya dihitung dengan minggu atau bulan ). Aparat keamanan juga saya liat sesekali keliling loko untuk mengontrol kondisi kereta. hanya satu yang tidak pernah berubah dari kereta api kita, tidak tersedianya kantung sampah dan air bersih ( Indonesia banget yah...).

Menjelang subuh saya tiba di stasiun Jatinegara. Jakarta kota yang menurut saya baca adalah impian hampir setengah penduduk Indonesia. semua yang kita mau tersedia di sini, sumber rejeki dan kesenangan ( kata mereka ). Tapi yang saya lihat pertama kali ketika kereta mulai memasuki kota Bekasi adalah gubuk-gubuk kumuh dan kesemrawutan. Jauh-jauh mereka datang dari kampung yang katanya untuk memperbaiki nasib ternyata yang mereka dapatkan tetap kemelaratan. Banyak dari mereka yang datang hanya bermodalkan tekad tampa ditunjang oleh pendidikan yang cukup, akhirnya pekerjaan yang didapatkan hanya pemulung,pengemis bahkan mungkin bayak yang terjerumus ke dalam dunia kejahatan dan prostitusi.

Esok hari setelah cukup berisitrahat saya janji bertemu dengan salah seorang teman lama, saya menginap di rumah soudara di daerah tebet dan kami janji bertemu di Blok M. MACET !...hampir disemua ruas jalan. sengaja saya memilih untuk sedikit berputar-putar kota dulu sebelum menuju Blok M, seperti apa jakarta sekarang. Problem kemacetan ternyata masih menjadi masalah utama di kota jakarta, padahal pemerintah telah menambah ruas jalan layang dan bus way dengan harapan para pengendara kendaraan pribadi mau beralih menggunakan busway. Tapi kenyataannya ?.... , belum lagi saya dengar sekarang pemda jakarta menerapkan peraturan jam sekolah jam 1/2 tujuh pagi, lagi-lagi dengan alasan untuk menghindari kemacetan,dan lagi-lagi langkah itu ternyata tidak efektif.Jumlah pengguna kendaraan roda empat dan roda dua yang malah kian bertambah ( mungkin salah satunya disebabkan oleh prodeusen kendaraan yang meluncurkan produk mobil murah, yang pada akhirnya banyak keluarga kelas menengah bisa membeli walaupun dengan cara mencicil ), belum lagi harga BBM yang menurut yang saya baca di indonesia harga BBM masih tergolong murah jika dibandingkan dengan negara-negara asia lainnya apalagi eropa dan amerika. Ditambah lagi dengan watak sebagian besar penduduk Indonesia yang masih feodal,yang masih saja menganggap bahwa kebendaan mencerminkan status seseorang.

Kami janjian bertemu di sebuah mall, sambil menunggu teman yang katanya terjebak macet saya memutuskan untuk keliling mall, Semua produk dari kelas menengah hingga yang lux tersedia di mall ini. Dan konsumen juga bayak, hmm....betapa konsumtifnya warga jakarta. seringkali konsumen di mall itu membeli barang-barang tersier yang sesungguhnya tidak penting atau malah mereka telah memiliki barang itu di rumah. Saya tidak tahu,mungkin begitulah cara warga ibu kota membuang rasa penat dengan segala rutinitas hidup. Sepertinya sekarang ini hampir disemua sudut kota jakarta dan sekitarnya mall-mall baru bertebaran, ini membuktikan bahwa penduduk ibu kota sangatlah konsumtif ( karena tidak mungkin mall-mall itu dibangun tampa ada permintaan pasar ). Sayapun membandingkan dengan negara tetangga kita singapura, menurut yang saya baca penduduk singapure memilih untuk saving sebagian penghasilan mereka daripada untuk konsumsi barang-barang tersier, mall-mall di sana lebih banyak dikunjungi oleh para wisatawan asing.kalaupun warga singapure pergi ke mall, mereka lebih banyak duduk-duduk di cafe hanya untuk minum segelas kopi, atau duduk-duduk di taman kota sambil membaca koran sekedar menghirup udara segar. O ya Taman kota, rasanya jakarta sangat miskin dengan taman kota,ruang terbuka hijau yang selain untuk keseimbangan alam juga sebagai tempat warga kota untuk beristirahat sejenak dari rutinitas.

Belum lagi ketika saya mendapati betapa tidak pedulinya penduduk jakarta pada sesama dan lingkungannya. sampah-sampah yang betebaran di pinggir-pinggir jalan dan pinggir kali ( hanya di jalan-jalan protokol , daerah perkantoran dan kompleks perumahan menengah keatas saja yang terlihat bersih ). Tak heran kalau kita kebetulan lewat di jalan kerap kali tercium bau tak sedap akibat sampah-sampah yang membusuk penuh lalat. Saya berpikir bagaimana jakarta setiap tahunnya menjadi langganan banjir. kalau saja kesadaran akan kebersihan dimiliki oleh setengah saja dari penduduk jakarta mungkin banjir tidak akan bertambah parah dari tahun ke tahun, ditambah lagi dengan bertambahnya bangunan gedung-gedung dan perumahan elit yang mungkin kurang mengindahkan amdal.o iya hampir saya lupa, ketika saya pulang saya nyaris tersesat karena salah turun dari bus yang saya tumpangi, saat itu hari hampir gelap, saya putuskan untuk bertanya kepada salah seorang yang kebetulan lewat. ternyata saya salah orang untuk bertanya, ketika dengan baik-baik saya bertanya arah tujuan saya, jawaban yang saya terima hanya "tanya aja ke tukang ojek!" tampa senyum sedikitpun. saya berpikir mungkin dia terburu-buru pulang karena saat itu kebetulan adalah jam pulang kantor, lalu bagaimana kalau saya bodoh dan tidak punya inisiatif atau tidak cukup uang untuk pulang ?.....entahlah.

Masih adakah yang berminat menjadi warga Jakarta ???....ohhh jakarta malangnya nasibmu.