Senin, 14 September 2009

FENOMENA MENJELANG LEBARAN

Saya telah sampai di kantor jam 8 lebih seperempat, agak kaget mendapati pintu gerbang kantor telah penuh sesak oleh manusia, saya pikir ada apa, setelah berhasil masuk mengertilah saya ternyata mereka tengah mengantri sedekah berupa sembako yang katanya rutin di lakukan oleh bos saya ( kebetulan rumah pribadi bos sebelahan dengan kantornya ). Dari jam 8 pagi hingga siang hari mareka rela dan setia menunggu zakat sembako. Saya sempat memperhatikan orang-orang itu, memang ada sebagian dari mereka terlihat benar-benar membutuhkan ( maaf kalo saya bilang mereka benar-benar kaum duafa ), tapi banyak dari kerumunan orang-orang itu kalau diperhatikan secara fisik mereka segar,sehat, tampak tidak kekurangan, baju mereka juga bersih.mungkin untuk beli sembako yang senilai dengan zakat yang akan mereka terima mereka masih mampu, tapi kenapa mereka rela ya berdesak-desak bahkan menunggu sampai berjam-jam??. dan kenapa pula bos saya tidak memilih cara yang lebih efisien dan efektif , seperti menyalurkan zakat melalui lembaga-lembaga amil zakat yang ada.

Saya sangat setuju bahwa di bulan ramadhan kita harus banyak-banyak berbuat amal kebajikan, termasuk berzakat/bersodakoh jika mampu ( walaupun ada baiknya jangan di bulan ini saja kita berderma, karena para kaum duafa di luar sana membutuhkan uluran tangan kita setiap saat ).Yang saya sayangkan adalah andaikata zakat yang kita keluarkan tidak benar-benar jatuh ketangan yang tepat, ke tangan mereka yang benar-benar membutuhkan ( kaum duafa, fakir miskin, anak yatim piatu dan kaum jompo ), mereka yang secara fisik dan mental sudah benar-benar tidak mampu. Kadang saya prihatin, kenapa masih ada saja diantara kita yang senang disebut "miskin", padahal sebenarnya mereka masih mampu walaupun tidak bisa dikatakan kaya. Apa mungkin mereka telah terkena penyakit "malas" hingga hilang rasa "malu" untuk disebut "miskin" ??,mereka dimalaskan oleh situasi dan budaya.

Dan bagi kaum dermawan yang ingin berbagi dengan saudara-saudara yang kurang beruntung, mengapa meraka tidak mempercayakan zakat mereka kepada lembaga zakat yang ada, hingga zakat yang mereka keluarkan bisa lebih sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Saya jadi sedikit berburuk sangka, apakah mereka benar-benar tulus dari hati untuk berzakat dan hanya mengharapkan ridho Allah semata tampa memperdulikan pujian dan sanjungan dari manusia ??. Bukankah Islam mengajarkan kalau bisa "ulurkan dengan tangan kananmu tampa tangan kirimu mengetahuinya" ( maaf kalau peribahasa saya ternyata salah ). Apakah badan amal yang ada tidak bisa dipercaya hingga banyak dari para dermawan lebih suka mendermakan harta mereka secara langsung ??,, semoga menjadi bahan perenungan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar