Sabtu, 16 April 2011

BAB I ...MASIH TAMPA JUDUL

Sekar tertunduk merenung di balik sel di sebuah penjara wanita Shansui Kota Guangzhou propinsi ghuan dong Cina. Setetes air mata mengalir di wajahnya yang masih menyisakan sisa sisa keayuan di masa muda, pelan-pelan perempuan jawa berusia 34 tahun itu menyeka wajahnya yang seakan tak bisa kering dari air mata. “ cepat bersiap , sebentar lagi kamu harus mengikuti sidang terakhirmu ” , sipir penjara bernama Liang Shaolin berkata dengan nada datar, Liang sipir penjara berusia kurang lebih 40 nan tahun , walaupun begitu tubuhnya masih terlihat bugar, berwajah bulat oriental , Liang Shaolin dikenal sebagai sipir penjara yang tegas sekaligus arif,dia pernah berkata “ aku tidak ingin menganggap kalian sebagai penjahat , aku tahu tidak semua perempuan yang masuk ke penjara ini melakukan kesalahan karena keinginan , mungkin mereka melakukan itu karena keadaan ataupun paksaan dan kalian tidak berdaya”. Dan selama sekar berada di penjara hampir 8 bulan lamanya hanya kepada seorang Liang Shaolin ia meratapi nasib buruknya, perbedaan bahasa tidak menghalangi kedekatan sin cu dan sekar, bahasa tubuh serta air mata sekar setiap kali mengurai getir perjalanan hidupnya telah cukup membuat sipir Liang mengerti.

Sekar berjalan pelan menyusuri lorong penjara diapit oleh dua polisi pria dan Liang Shaolin. “ bersikaplah tenang di pengadilan nanti, aku berharap keputusan pengadilan tidak seburuk dugaan, aku berdoa untukmu” liang memegang erat telapak tangan sekar memberi kekuatan pada perempuan yang tengah mengalami nasib malang di negeri yang sangat jauh dari kampung halamannya. “ terima kasih , hanya engkau teman yang aku miliki di tempat asing ini, aku barharap kemalanganku segera berakhir ….terima kasih” dipeluk eratnya sipir penjara wanita itu , sekar menyeka sekali lagi air mata di pipinya yang pucat.” Aku tidak ingin menangis lagi apapun nanti yang pengadilan putuskan untukku sipir Liang, aku pasrah, mungkin ini memang cerita hidup yang Tuhan tuliskan untukku…sekali lagi terima kasih ”. Liang Shaolin mengusap lembut punggung sekar tampa berkata,dibimbingnya sekar menuju mobil tahanan yang akan membawanya menuju pengadilan kota ghuan dong , setalah menandatangani berkas sekar dan menyerahkan pada salah seorang polisi yang akan membawa sekar ke pengadilan, sekali lagi Liang shaolin menatap lekat sekar, kepalanya mengangguk berlahan dan sekar membalasnya dengan anggukan dan tersenyum. Pelan-pelan mobil tahanan itu bergerak keluar area penjara wanita menuju gedung pengadilan , sekar duduk melipatkan kedua tangannya …diam.

“ Bapak…aku mau terus melanjutkan sekolah setidaknya hingga SMA, aku tidak keberatan setelah pulang sekolah seharian membantu bapak dan simbok berkerja di perkebunan pak manten” sekar menghiba merengek pada ayahnya, saat itu sekar gadis remaja berusia 16 tahun, tengah menyelesaikan ujian terakhirnya di sebuah SMP negeri di kota kecil Wonosobo. “ ora iso nduk….bapak tidak sanggup membiayai sekolahmu nanti, masih ada adikmu seno dan agung , cukuplah kamu sekolah sampai SMP nduk, kamu cah wedok…wis gede, sekarang waktumu bantu bapak dan simbok di rumah”,ayah sekar pelan mengelur rambut lurus sekar sambil sebelah tangannya menghisap rokok klinting buatannya sendiri. Sekar menangis berlari menuju bilik kamarnya yang terbuat dari anyaman bambu itu , “ aku hanya ingin sekolah…aku hanya ingin sekolah bapak….” Bibirnya mengguman disela-sela isak tangisnya “ kenapa sih kami harus semiskin ini…aku tidak ingin apa-apa ..aku hanya ingin bisa sekolah” bibir mungilnya terus mengguman dan mengguman , hingga karena lelah sekar kecilpun tertidur.

Pelan-pelan terdengar pintu bilik sekar digeser, tersembul seraut wajah tirus milik seorang perempuan paruh baya, wajahnya sebenarnya cantik, namun tertutup oleh kerut dan mata yang masih terlihat lelah walaupun pagi masih menunjukan pukul 6.30. “ nduk…bangun wis isuk ki lo, sholat … bukankah hari ini kamu sekolah ? , diusapnya rambut putri tersayangnya sepenuh hati, dalam hati ia berkata “ andai aku bisa, aku ingin mewujudkan keinginan besarmu itu nak”, “ jam berapa mak?” sekar menggeliatnya badannya pelan-pelan,” jam ½ 6 nduk…ayo lekas bangun “. Sekar beranjak dari ranjang nya yang kecil menuju belakang rumah, adiknya seno dan agung tengah bergantian menimba air untuk mereka mandi. Seno dan agung dua adik laki-laki sekar yang masing masing masih duduk di kelas 4 sekolah dasar dan 1 SMP hampir berbarengan menoleh kearah kakak sulung mereka “ kak sekar gantian nimba airnya ya ?” , “ sebentar kakak wudhu dulu , kalian berdua cepat mandi nanti kakak yang teruskan isi kolam “ sekar segera mengambil air wudhu, masuk kembali ke dalam , tak berapa lama telah muncul kembali ke belakang, sambil mengisi kolam hati sekar masih terus bertanya sebegitu miskinkah kami hingga hanya untuk bersekolah saja itu tidak mungkin.

Dari dalam mobil tahanan sekar memandang ke luar, akhir bulan januari , sisa-sisa salju masih terlihat menggantung di pucuk-pucuk dahan pepohonan , sebentar lagi musim semi menjelang, daun-daun akan kembali tumbuh disusul bunga-bunga bermekaran,” aku rindu rumahku , kampungku dan keluargaku dan oh buah hatiku si kembar bunga dan sekar, “ bagaimana keadaan kalian anak-anaku, sebesar apa kalian sekarang” air mata yang setengah mati ditahan agar tidak menetes sedari rumah tahanan tadi tak kuasa dibendung lagi ketika sekar mengingat buah hati dan simboknya, orang – orang yang sangat berarti dalam hidupnya, hanya demi merekalah sekar rela bertahun-tahun merantau sebagai TKW di beberapa Negara, dalam hatinya selalu berkata “ tak akan kubiarkan kedua anakku sepertiku, aku ingin kalian bisa sekolah setinggi-tingginya hingga kelak kalian menjadi perempuan mandiri kebanggaan ibu” , oh Tuhan….., kedua tangan sekar menutup wajahnya , air mata semakin dan semakin deras menetes “ maafkan
ibu nak….maafkan ibu…….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar