Rabu, 06 April 2011

F** the Perfect

Ketika remaja aku sering dihinggapi rasa iri bila melihat remaja sebayaku yang memiliki tubuh molek, kulit putih bersih dan berwajah cantik apalagi bila mereka memiliki kelebihan dalam financial, aku membayangkan rasanya sempurna sekali mereka terlahir ke dunia . aku ingat ketika di bangku SMA memiliki teman satu kelas yang hampir seisi sekolah mengaguminya terutama para pria. Berwajah cantik molek berkulit putih bersih berasal dari keluraga kaya pula ( walaupun isi otaknya biasa-biasa saja ….tapi siapa peduli !), menjadikannya bak bidadari di sekolah kami. Karena kecantikannya seringkali sekolah mendelagasikan dia sebagai wakil sekolah di berbagai lomba ( tentunya yang tidak berhubungan dengan kecerdasan …). Sering kali aku memperhatikan gerak-geriknya, ingin rasannya bisa meniru gaya dandannya, gaya bicaranya atau bila perlu gaya jalannya. Yang aku pikirkan saat itu hanyalah “ aku ingin sepertinya”.
Ketika aku berkata pada ibu “ bu, kenapa sih aku harus bertubuh kurus kerempeng, sering sakit, berkulit coklat berambut keriting tipis …kenapa juga ayah hanya jadi pegawai negeri biasa yang, kenapa ibu hanya memberi aku uang saku hanya cukup untuk ongkos dan beli makan siang di sekolah, aku kan ingin juga membeli pernak-pernik seperti teman-teman yang lain “ , dan dengan bijak ibuku menjawab “ siapa bilang kamu jelak? kamu anak ibu yang cantik dan istimewa, kelak kamu dewasa nanti kamu akan mengerti betapa istimewanya dirimu “ sambil beliau membelai saying rambutku.

Tentu saja saat itu aku tidak bisa mengerti arti kata-kata ibuku ( karena yang ada di otakku saat itu adalah “ betapa tidak adilnya Tuhan melahirkan aku !” ibuku sendiri adalah perempuan dengan wajah cantik ( mungkin aku lebih mirip ayah …hehe ). Saat itu aku tidak menyadari bahwa aku terlahir memiliki sifat keras kepala ( ayah ibuku berkata “ anakku yang satu ini kalau sudah menginginkan sesuatu gak pernah bisa dipenggak ( dicegah )” ), ingin tahu sekaligus ceroboh dan pelupa. Kebetulan atau karena keterbatasan keluarga kami pula dirumah kami tidak ada fasilitas televisi saat itu, sebagai gantinya ayah akan selalu membawa Koran harian setiap beliau pulang kantor atau membelikan kami bacaan anak-anak , dan itu manjadikan kami anak-anaknya menjadi gemar membaca ( karena gak ada hiburan lain selain buku dan radio !...*_* ). Ketika SMA dan harus membuat tugas akhir aku berkata “ aku tidak mau ikut study tour, aku gak mau membuat karya tulis yang sama dengan teman-teman “, dan karya tulis yang berhasil aku susun saat itu berjudul “ Seluk Beluk Penyakit Kanker Rahim “…hehe karya tulis yang cukup berat untuk ukuran SMA menurutku . bahan aku kumpulkan dibantu ayah ( saat itu ayah membawa beberapa buku tentang kanker yang beliau pinjam dari perustakaan kantor , ayah bekerja di RSUD ). Betapa bangganya aku saat itu bisa membuat sesuatu yang berbeda dari teman-temanku.

Waktu memberi banyak pelajaran dan membentuk pribadi yang sebenarnya, seperti aku. Semakin aku dewasa semakin aku merasa bahagia dengan semua yang ada di diriku. Aku bahagia karena diberi keinginan untuk menulis, aku bahagia karena diberi kesempatan menjalani aktifitas mengajar diluar pekerjaan formalku ( sedari kecil ketika orang bertanya “ apa cita-citamu nak?” dengan lantang kujawab “ guru!” ), aku bahagia bisa menjadi perempuan yang mandiri sekaligus bahagia karena Tuhan memberi aku keras kepala, serba ingin tahu , pelupa sekaligus ceroboh , dan aku rasa teman-teman ku pun bahagia bila dekat denganku. Tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa disayangi karena seperti kata ibuku “ engkau istimewa anakku “ ….ya aku tau bahwa aku memiliki kelebihan yang orang lain belum tentu punya dan tentu ini juga berlaku untuk semua pembaca , yakinlah bahwa masing-masing kita memiliki kelebihan, temukan galilah dan tunjukan ( tentu saja kelebihan yang positif ya….). nyamanlah dengan diri sendiri dan tunjukan kelebihan positif kita, karena itu akan menjadikan kita unik dan keunikan itu yang membuat kita istimewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar